TUGAS
BIOLOGI DASAR
Di
susun

Oleh
NAMA:SAIFULLAH AZMAN
NIM:60300114033
KELAS:A2
DOSEN: NURLAILAH MAPPANGANRO S.P.,M.P
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SANS
DAN TEKNOLOGI
UIN ALAUDDIN
MAKASSAR
2014/2015
TUGAS
BIOLOGI DASAR: METABOLISME
1. Jelaskan
dan uraikan proses katabolisme.
2. Jelaskan
dan uraikan proses anabolisme.
3. Jelaskan
dan uraikan proses fotosintesis.
4. Jelaskan
reaksi terang dan reaksi gelap dalam proses fotosintesis.
1.
KATABOLISME
Katabolisme
disebut juga respirasi, merupakan proses pemecahan bahan organik menjadi bahan
anorganik dan melepaskan sejumlah energi (reaksi eksergonik). Energi yang lepas
tersebut digunakan untuk membentuk adenosin trifosfat (ATP), yang merupakan
sumber energi untuk seluruh aktivitas kehidupan. Pada prinsipnya katabolisme
merupakan reaksi reduksi-oksidasi (redoks), karena itu dalam reaksi tersebut
diperlukan akseptor elektron untuk menerima elektron dari reaksi oksidasi bahan
organik. Akseptor elektron tersebut diantaranya adalah:
- NAD (nikotinamida adenin dinukleotida)
- FAD (flavin adenin dinukleotida)
- Ubikuinon
- Sitokrom
- Oksigen
Ada
empat langkah dalam proses respirasi, yaitu: glikolisis, dekarboksilasi oksidaif,
daur Krebs, dan rantai transpor elektron.
1.
Glikolisis
Glikolisis berlangsung
di sitosol, merupakan proses pemecahan molekul glukosa yang memiliki 6 atom C
menjadi dua molekul asam piruvat yang memiliki 3 atom C. Reaksi yang
berlangsung di sitosol ini menghasilkan 2 NADH dan 2 ATP.
2.
Dekarboksilasi Oksidatif
Dekarboksilasi oksidatif
berlangsung di matriks mitokondria, sebenarnya merupakan langkah awal untuk
memulai langkah ketiga, yaitu daur Krebs. Pada langkah ini 2 molekul asam
piruvat yang terbentuk pada glikolisis masing-masing diubah menjadi Asetil-KoA
(asetil koenzim A) dan menghasilkan 2 NADH.
3.
Daur Krebs
Daur Krebs yang
berlangsung di matriks mitokondria disebut juga daur asam sitrat atau daur asam
trikarboksilat dan berlangsung pada matriks mitokondria. Asetil-KoA yang terbentuk
pada dekarboksilasi oksidatif, memasuki daur ini. Pada akhir siklus dihasilkan
6 NADH, 2 FADH, dan 2 ATP. (lihat skema di bawah)
4.
Rantai Transpor Elektron
Rantai transpor elektron
berlangsung pada krista mitokondria. Prinsip dari reaksi ini adalah: setiap
pemindahan ion H (elektron) yang dilepas dari dua langkah pertama tadi antar
akseptor dihasilkan energi yang digunakan untuk pembentukan ATP.

Setiap
satu molekul NADH yang teroksidasi menjadi NAD akan melepaskan energi yang
digunakan untuk pembentukan 3 molekul ATP. Sedangkan oksidasi FADH menjadi FAD,
energi yang lepas hanya bisa digunakan untuk membentuk 2 ATP. Jadi, satu mol
glukosa yang mengalami proses respirasi dihasilkan total 38 ATP.
Tabel
berikut menjelaskan perhitungan pembentukan ATP per mol glukosa yang dipecah
pada proses respirasi.
Proses
|
ATP
|
NADH
|
FADH
|
Glikolisis
Dekarboksilasi oksidatif Daur Krebs Rantai transpor elektron |
2
- 2 34 |
2
2 6 - |
-
- 2 - |
Total
|
38
|
10
|
2
|
Respirasi
Anaerob
Oksigen
diperlukan dalam respirasi aerob sebagai penerima H yang terakhir dan membentuk
H2O. Bila berlangsung aktivitas respirasi yang sangat intensif seperti pada
kontraksi otot yang berat akan terjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan
berlangsungnya respirasi anaerob. Contoh respirasi anaerob adalah fermentasi
asam laktat pada otot, dan fermentasi alkohol yang dilakukan oleh jamur Sacharromyces
(ragi).
1.
Fermentasi asam laktat
Asam
piruvat yang terbentuk pada glikolisis tidak memasuki daur Krebs dan
rantai transpor elektron karena tak ada oksigen sebagai penerima H yang
terakhir. Akibatnya asam piruvat direduksi karena menerima H dari NADH yang
terbentuk saat glikolisis, dan terbentuklah asam laktat yang menyebabkan rasa
lelah pada otot. Peristiwa ini hanya menghasilkan 2 ATP untuk setiap mol
glukosa yang direspirasi.
CH3.CO.COOH + NADH —–> CH3.CHOH.COOH + NAD + E
(asam
piruvat)
(asam laktat)
2.
Fermentasi alkohol

Pada
fermentasi alkohol asam piruvat diubah menjadi asetaldehid yang kemudian
menerima H dari NADH sehingga terbentuk etanol. Reaksi ini juga menghasilkan 2
ATP.
CH3.CO.COOH
—–> CH3.CHO + NADH —–> C2H50H + NAD + E
(asam
piruvat)
(asetaldehid)
(etanol)
2.
ANABOLISME
Anabolisme adalah lintasan metabolisme yang menyusun beberapa senyawa organik sederhana
menjadi senyawa kimia atau molekul kompleks. Proses ini membutuhkan
energi dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi
cahaya ataupun energi kimia. Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk
mengikat senyawa-senyawa sederhana tersebut menjadi senyawa yang lebih
kompleks. Jadi,
dalam
proses ini energi yang diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam
bentuk ikatan-ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk.
3. FOTOSINTESIS
Fotosintesis
adalah
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia
pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara,
karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari. Hampir
semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis.
Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi.
Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di
atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos
berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu
cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat
(difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang
ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang
dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang.
Daun tempat
berlangsungnya fotosintesis. Proses fotosintesis
tidak dapat berlangsung pada setiap sel, tetapi hanya pada sel yang mengandung
pigmen fotosintetik. Sel yang tidak mempunyai pigmen fotosintetik ini tidak mampu
melakukan proses fotosintesis. Pada percobaan Jan Ingenhousz, dapat diketahui
bahwa intensitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis pada tumbuhan. Hal ini
dapat terjadi karena perbedaan energi yang dihasilkan oleh setiap spektrum
cahaya. Di samping adanya perbedaan energi tersebut, faktor lain yang menjadi
pembeda adalah kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya yang
berbeda tersebut. Perbedaan kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum
cahaya tersebut disebabkan adanya perbedaan jenis pigmen yang terkandung pada
jaringan daun.
Proses Fotosintesis
Proses fotosintesis
sangat kompleks karena melibatkan semua cabang ilmu pengetahuan alam utama,
seperti fisika, kimia, maupun biologi sendiri. Pada
tumbuhan, organ utama tempa berlangsungnya fotosintesis adalah daun. Namun
secara umum, semua sel yang memiliki kloroplas
berpotensi untuk melangsungkan reaksi ini. Di organel inilah tempat
berlangsungnya fotosintesis, tepatnya pada bagian stroma. Hasil fotosintesis
(disebut fotosintat) biasanya dikirim ke jaringan-jaringan terdekat terlebih
dahulu.
Pada dasarnya, rangkaian
reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang
(karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi
memerlukan karbon dioksida).
4.
REAKSI TERANG DARI FOTOSINTESIS DALAM MEMBRAN TILAKOID
Elektron dari sitokrom
b6-f kompleks akan diterima oleh fotosistem I. Fotosistem ini menyerap energi
cahaya terpisah dari PS II, tapi mengandung kompleks inti terpisahkan, yang
menerima elektron yang berasal dari H2O melalui kompleks inti PS II lebih dahulu.
Sebagai sistem yang bergantung pada cahaya, PS I berfungsi mengoksidasi
plastosianin tereduksi dan memindahkan elektron ke protein Fe-S larut yang
disebut feredoksin. Reaksi keseluruhan pada PS I adalah: Cahaya + 4PC(Cu+) +
4Fd(Fe3+) → 4PC(Cu2+) + 4Fd(Fe2+) Selanjutnya elektron dari feredoksin
digunakan dalam tahap akhir pengangkutan elektron untuk mereduksi NADP+ dan
membentuk NADPH. Reaksi ini dikatalisis dalam stroma oleh enzim
feredoksin-NADP+ reduktase. Reaksinya adalah: 4Fd (Fe2+) + 2NADP+ + 2H+ → 4Fd
(Fe3+) + 2NADPH Ion H+ yang telah dipompa ke dalam membran tilakoid akan masuk
ke dalam ATP sintase. ATP sintase akan menggandengkan pembentukan ATP dengan
pengangkutan elektron dan H+ melintasi membran tilakoid. Masuknya H+ pada ATP
sintase akan membuat ATP sintase bekerja mengubah ADP dan fosfat anorganik (Pi)
menjadi ATP. Reaksi keseluruhan yang terjadi pada reaksi terang adalah sebagai
berikut: Sinar + ADP + Pi + NADP+ + 2H2O → ATP + NADPH + 3H+ + O2. Sedangkan dalam reaksi
gelap terjadi seri reaksi siklik yang membentuk gula dari bahan dasar CO2 dan
energi (ATP dan NADPH). Energi yang digunakan dalam reaksi gelap ini diperoleh
dari reaksi terang.
Pada proses reaksi gelap
tidak dibutuhkan cahaya matahari. Reaksi gelap bertujuan untuk mengubah senyawa
yang mengandung atom karbon menjadi molekul gula. Dari semua radiasi matahari
yang dipancarkan, hanya panjang gelombang tertentu yang dimanfaatkan tumbuhan
untuk proses fotosintesis, yaitu panjang gelombang yang berada pada kisaran
cahaya tampak (380-700 nm). Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610 - 700
nm), hijau kuning (510 - 600 nm), biru (410 - 500 nm) dan violet (< 400
nm).[20] Masing-masing jenis cahaya berbeda pengaruhnya terhadap fotosintesis.
Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap cahaya yang bekerja dalam
fotosintesis. Pigmen yang terdapat pada membran grana menyerap cahaya yang
memiliki panjang gelombang tertentu. Pigmen yang berbeda menyerap cahaya pada
panjang gelombang yang berbeda. Kloroplas mengandung beberapa pigmen. Sebagai
contoh, klorofil a terutama menyerap cahaya biru-violet dan merah. Klorofil b
menyerap cahaya biru dan oranye dan memantulkan cahaya kuning-hijau. Klorofil a
berperan langsung dalam reaksi terang, sedangkan klorofil b tidak secara
langsung berperan dalam reaksi terang. Proses absorpsi energi cahaya
menyebabkan lepasnya elektron berenergi tinggi dari klorofil a yang selanjutnya
akan disalurkan dan ditangkap oleh akseptor elektron. Proses ini merupakan awal
dari rangkaian panjang reaksi fotosintesis.
REAKSI GELAP (SIKLUS CALVIN) DAN FIKSASI KARBON
Reaksi gelap
terjadi pada stroma
kloroplas yang dapat (bukan harus) berlangsung dalam gelap, karena
enzim-enzim untuk fiksasi CO2 pada stroma kloroplas tidak
memerlukan cahaya tetapi membutuhkan ATP dan NADPH yang menghasilkan dari
reaksi terang. Reaksi gelap pada tumbuhan dapat terjadi melalui
dua jalur, yaitu siklus Calvin-Benson dan siklus Hatch-Slack. Pada siklus
Calvin-Benson tumbuhan mengubah senyawa ribulosa 1,5 bisfosfat menjadi senyawa
dengan jumlah atom karbon tiga yaitu senyawa 3-phosphogliserat. Oleh karena
itulah tumbuhan yang menjalankan reaksi gelap melalui jalur ini dinamakan
tumbuhan C-3. Penambatan CO2 sebagai sumber karbon pada tumbuhan ini dibantu
oleh enzim rubisco. Tumbuhan yang reaksi gelapnya mengikuti jalur Hatch-Slack
disebut tumbuhan C-4 karena senyawa yang terbentuk setelah penambatan CO2
adalah oksaloasetat yang memiliki empat atom karbon. Enzim yang berperan adalah
phosphoenolpyruvate carboxilase.
Mekanisme siklus Calvin-Benson dimulai dengan
fiksasi CO2 oleh ribulosa difosfat karboksilase (RuBP) membentuk
3-fosfogliserat. RuBP merupakan enzim alosetrik yang distimulasi oleh tiga
jenis perubahan yang dihasilkan dari pencahayaan kloroplas. Pertama, reaksi
dari enzim ini distimulasi oleh peningkatan pH. Jika kloroplas diberi cahaya,
ion H+ ditranspor dari stroma ke dalam tilakoid menghasilkan peningkatan pH
stroma yang menstimulasi enzim karboksilase, terletak di permukaan luar membran
tilakoid. Kedua, reaksi ini distimulasi oleh Mg2+, yang memasuki stroma daun
sebagai ion H+, jika kloroplas diberi cahaya. Ketiga, reaksi ini distimulasi
oleh NADPH, yang dihasilkan oleh fotosistem I selama pemberian cahaya.
Fiksasi CO2 ini
merupakan reaksi gelap yang distimulasi oleh pencahayaan kloroplas. Fikasasi
CO2 melewati proses karboksilasi, reduksi, dan regenerasi. Karboksilasi
melibatkan penambahan CO2 dan H2O ke RuBP membentuk dua molekul 3-fosfogliserat
(3-PGA). Kemudian pada fase reduksi, gugus karboksil dalam 3-PGA direduksi
menjadi 1 gugus aldehida dalam 3-fosforgliseradehida (3-Pgaldehida). Reduksi
ini tidak terjadi secara langsung, tapi gugus karboksil dari 3-PGA pertama-tama
diubah menjadi ester jenis anhidrida asam pada asam 1,3-bifosfogliserat
(1,3-bisPGA) dengan penambahan gugus fosfat terakhir dari ATP. ATP ini timbul
dari fotofosforilasi dan ADP yang dilepas ketika 1,3-bisPGA terbentuk, yang
diubah kembali dengan cepat menjadi ATP oleh reaksi fotofosforilasi tambahan.
Bahan pereduksi yang sebenarnya adalah NADPH, yang menyumbang 2 elektron.
Secara bersamaan, Pi dilepas dan digunakan kembali untuk mengubah ADP menjadi
ATP.
Pada fase regenerasi,
yang diregenerasi adalah RuBP yang diperlukan untuk bereaksi dengan CO2
tambahan yang berdifusi secara konstan ke dalam dan melalui stomata. Pada akhir
reaksi Calvin, ATP ketiga yang diperlukan bagi tiap molekul CO2 yang ditambat,
digunakan untuk mengubah ribulosa-5-fosfat menjadi RuBP, kemudian daur dimulai
lagi.
Tiga putaran daur akan menambatkan 3 molekul CO2
dan produk akhirnya adalah 1,3-Pgaldehida. Sebagian digunakan kloroplas untuk
membentuk pati, sebagian lainnya dibawa keluar. Sistem ini membuat jumlah total
fosfat menjadi konstan di kloroplas, tetapi menyebabkan munculnya triosafosfat
di sitosol. Triosa fosfat digunakan sitosol untuk membentuk sukrosa.
TUGAS
BIOLOGI DASAR: REPRODUKSI MAKHLUK HIDUP
5.
JELASKAN
DAUR HIDUP TUMBUHAN BRYOPHYTA (LUMUT).
6.
JELASKAN
DAUR HIDUP TUMBUHAN PTERIDOPHYTA (PAKU-PAKUAN).
7.
JELASKAN
DAUR HIDUP TUMBUHAN GYMNOSPERMAE.
8.
JELASKAN
DAUR HIDUP TUMBUHAN ANGIOSPERMAE.
9.
JELASKAN
CARA-CARA REPRODUKSI TUMBUHAN SECARA ASEKSUAL.
10. JELASKAN DAN URAIKAN PROSES
SPERMATOGENESIS.
11. JELASKAN DAN URAIKAN PROSES OOGENESIS.
1. DAUR HIDUP TUMBUHAN LUMUT
Tumbuhan Lumut termasuk anggota kingdom Plantae dari
divisio Bryophyta.
Tumbuhan Lumut diketahui tidak memiliki jaringan pengangkut baik xilem
maupun floem dan juga tidak ditemukan adanya struktur akar, batang, dan daun
sejati sehingga digolongkan sebagai tumbuhan talus [ Thallophyta ].
Berdasarkan struktur sporofitnya, dikenal ada 3 macam tumbuhan lumut ,
yakni :
- Hepaticopsida [ Lumut Hati ]
- Anthoceropsida [ Lumut Tanduk ]
- Bryopsida [ Lumut Daun ].
Alat kelamin jantan [ antheridium ] akan menghasilkan spermatozoid [ sel sperma ], sedangkan alat kelamin betina [ arkegonium ] akan membentuk ovum [ sel
telur ] yang keduanya bersifat haploid [ n ]. Setelah terjadi peleburan
spermatozoid dengan ovum maka akan terbentuk zigot yang bersifat diploid [ 2n ]. Pada tahapan selanjutnya,
zigot akan tumbuh membentuk sporogonium
[ badan penghasil spora ]. Spora-spora
yang terbentuk dilindungi oleh suatu bangunan yang dinamakan sporangium [ kotak spora ]. Setelah
spora-spora dalam sporangium masak, maka dinding sporangium akan mengering dan
akhirnya pecah serta melemparkan spora-spora ke lingkungan. Jika spora-spora
tersebut jatuh di tempat yang sesuai [ lembab , mengandung nutrisi dan terpapar
cahaya ], maka spora akan "berkecambah" menjadi protonema. Untuk selanjutnya,
protonema akan tumbuh menjadi tumbuhan lumut baru, yang kemudian tumbuh dan
berkembang hingga setelah dewasa siap bereproduksi.
2. DAUR HIDUP TUMBUHAN PTERIDOPHYTA (PAKU-PAKUAN).
Pteridophyta (Tumbuhan Paku)
pakuan merupakan salah satu
kelompok tumbuhan yang tertua yang masih dapat dijumpai di daratan.
Pteridophyta hidup tersebar luas dari tropika yang lembab sampai melampaui
lingkaran Arktika. Tumbuhan ini dijumpai dalam jumlah yang teramat besar di
hutan-hutan hujan tropika. Paku-pakuan juga tumbuh dengan subur di daerah
beriklim sedang, mereka mudah dijumpai di hutan-hutan, padang-padang rumput
yang lembab, sepanjang sisi jalan dan sungai. Ukurannya berkisar dari yang
sangat kecil, seperti paku-pakuan air, sampai kepada yang berbentuk pohon yang
dapat mencapai ketinggian kira-kira 20 meter (misalnya paku pohon Cythea
sp).
#
Daur hidup tumbuhan paku :
Generasi Gametofit :
-
ditandai dengan adanya protalium
-
Pada protalium terdapat gametangium yang membentuk
anteridium (menghasilkan
Sperma) & arkegonium (menghasilkan ovum)
-
Fertilisasi menghasilkan zigot
-
Zigot berkembang menjadi tumbuhan paku baru
Generasi Sporofit :
-
Tumbuhan penghasil spora
-
Spora dihasilkan oleh sporofil
-
Spora yang jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi tumbuhan baru
berupa protalium
Berdasarkan
Jenis Spora Yang Dihasilkan, Tumbuhan Paku Dibedakan Menjadi :
#
Klasifikasi tumbuhan paku :
1.
Divisi Psilotophyta
- Merupakan paku yang hampir punah
- Tidak memiliki daun atau akar sejati
- Memiliki rizoid
Contoh : Psilotum
2.
Divisi Lycopodophyta
- Jumlahnya mencapai 1.000 spesies
- Mikrofil tersusun spiral
- Sporangium muncul dari ketiak daun & berkumpul membentuk strobilus
- Pada umumnya epifit
Contoh
: Lycopodium & Selaginella
3. Divisi Equisetophyta
- Jumlahnya sekitar 15 spesies
- Habitat ; tempat lembab
- Daun bersisik, tersususn melingkar pada setiap buku
- Tinggi mencapai 1,3 m
- Ujung batang terdapat strobilus kekuning-kuningan
Contoh
; Equisetum
4.
Divisi Pteridophyta
- Memiliki makrofil dengan tulang daun dan mesofil
- Tingginya bervariasi ; dari yang tampak seperti lumut hingga menjulang seperti pohon
Contoh
- Alsophilla
glauca (paku tiang)
- Gleichenia
linearis (paku resam)
- Adiantum
cuneatum (suplir)
- Marsilea
crenata (semanggi)
#
Peranan tumbuhan paku :
- Dipelihara
sebagai tanaman hias, misalnya paku tanduk rusa (Platycerium
bifurcatum), paku sarang burung (Asplenium sp), suplir (Adiantum
sp) .
- Penghasil
obat – obatan misalnya : Aspidium sp, Dryopteris filix mas, dan Lycopodium
colavatum
- Sebagai
bahan pupuk hijau, misalnya Azolla pinata
- Sebagai
salah satu bahan dalam pembuatan karangan bunga, misalnya Lycopodium
cernuum.
- Sebagai
sayuran, misalnya semanggi (Marsilea crenata) dan Pteridium
aqualium.
3.
DAUR HIDUP
TUMBUHAN GYMNOSPERMAE
Gymnospermae merupakan tumbuhan berbiji terbuka yang dapat berupa pohon, semak, dan perdu. Pada batang terjadi pertumbuha menebal sekunder karena memiliki kambium. Pada batang gymnospermae tidak memiliki pembuluh kayu, melainkan trakeid (kecuali pada melinjo). Biji gymnospermae tidak tertutup dan terdapat pada ermukaan sporofit sehingga tampak dari luar. Bunga betina atau majemuk berkembang menjadi buah dengan bentuk khusus yang disebut strobilus. Siklus hidup dari gymnospermae dimulai dari terbentuknya gamet yang disebut dengan mikrospora. Pada saat terjadi penyerbukan maka serbuk sari melekat pada bakal biji dan sperma bergerak menuju sel telur melalui buluh serbuk sari. Jika terjadi pembuahan maka akan terbentuk zigot yang akan berkembang menjadi embrio dan biji.
Klasifikasi Gymnospermae
Sampai saat ini gymnospermae yang dapat ditemukan ada 4 kelas dan oleh para ahli taksonomi telah digolongkan menjadi 4 divisi tersendiri yaitu :
- Divisi Konifer (Pinophyta)
Tumbuhan konifer berupa semak, perdu, atau pohon. Tumbuhan konifer ini mempunyai daun yang berbetuk jarum. Contoh : - Ordo Texaceae : Taxus baccatu dan Austrotuxus
- Ordo Araucariales : Agathis alba (damar)
- Ordo Podacarpalles : Pinus merkusii
- Ordo Curpressales : Juniperus communis
- Divisi Vycadophyta
Cycadophyta merupakan tumbuhan berkayu yang sedikit bercabang. Bunga tersusun dalam strobilus berumah dua. Contoh : Cycas rumphii (pakis haji) dan palem sagu - Divisi Gynkgophyta (pohon rambut dara)
Anggota dari divisi ini merupakan tumbuhan berumah dua, berupa pohon bertunas panjang dan pendek. Daunnya bertangkai panjang berbentuk kipas dan tulang daun bercabang - cabang seperti garpu dan akar meranggas pada musim gugur. Contoh : Ginkgo biloba - Divisi Gnetophyta
Merupakan tumbuhan berkayu, batang ada yang bercabang dan ada yang tidak bercabang, serta memiliki trakea pada kayu sekundernya. Contoh : - Ordo Ephedrales : Ephedra altissima
- Ordo Gnetales : Gnetum gnemon (melinjo)
- Ordo Weleitschiales : Welwtschia bainessi
Manfaat Gymnospermae :
- Bahan bangunan : Pinus silveltris dan Thuya (cemara)
- Bahan baku ukiran : Texus baccata
- Bahan baku kertas : Beberapa jenis cemara
- Penghasil getah : Pinus merkusii
4. DAUR HIDUP ANGIOSPERMAE

Simak dengan baik penjelasan dari gambar
diatas yang berkaitan dengan siklus hidup Angiospermae. Gamet betina
dibentuk di dalam bakal biji (ovule) atau kantung lembaga. Pada bagian ini
terdapat sel induk megaspora (sel induk kantug lembaga) yang diploid. Sel ini
akan membelah secara meiosis dan dari satu sel induk kantung lembaga membentuk
4 sel yang haploid. Tiga sel akan mereduksi dan lenyap tinggal satu yang
berkembang. Selanjutnya, sel ini membelah secara mitosis 3 kali dan
terbentuklah 8 sel. Dari sel yang berjumlah 8 ini, 3 sel akan bergerak menuju
arah yang berlawanan dengan mikropil, 2 sel lainnya menjadi kandung tembaga
sekunder, dan 3 sel terakhir menuju ke dekat mikropil. Dari 3 sel (yang menuju
dekat mikropil) yang terakhir ini dua menjadi sinergid dan satu sel lagi
menjadi sel telur. Dalam keadaan seperti ini kandung lembaga sudah masak dan
siap untuk dibuahi. Putik yang sudah masak biasanya mengeluarkan cairan lengket
pada ujungnya yang berfungsi sebagai tempat melekatnya serbuk sari.
5. REPRODUKSI TUMBUHAN SECARA ASEKSUAL.
Reproduksi secara Vegetatif (Aseksual)
Yaitu terjadinya individu baru tanpa didahului peleburan dua sel gamet. Dapat dibedakan menjadi dua macam:Perkembangbiakan vegetatif alami
Yaitu terjadi individu baru tanpa adanya campur tangan manusia. Reproduksi seperti ini terjadi dengan beberapa cara, yaitu:
- Dengan pembelahan sel, terjadi pada tumbuhan bersel satu, misalnya alga bersel satu Chlorella, Chlamydomonas, dll.
- Dengan menghasilkan spora vegetatif, misalnya pada tumbuhan paku, fungi, dan ganggang
- Dengan rhizoma atau akar tinggal: pada irut, bunga tasbih, lengkuas, temulawak, dan kunyit.
- Dengan stolon atau geragih, misalnya pada pegagan (Sentela asiatica), rumput teki (Cyperus rotundus), arbei, dan lain sebagainya.
- Dengan umbi batang, misalnya pada kentang (Solanum tuberosum).
- Dengan umbi lapis, misalnya pada bawang merah (Allium cepa).
- Dengan umbi akar, misalnya pada ketela pohon
- Dengan tunas, misalnya pada bambu (Gigantochloa sp).
- Dengan tunas adventif, misalnya pada cocor bebek
Selain itu tumbuhan dapat juga berkembang biak dengan
cara tak kawin dan dengan bantuan manusia, biasa disebut reproduksi secara
vegetatif buatan, misalnya: mencangkok, stek, okulasi, mengenten, dan merunduk.
![]() |
a. Mencangkok Tumbuhan yang biasa dicangkok adalah tumbuhan dikotil seperti jambu, sawo, rambutan, mangga, jeruk, dan lain-lain. Tujuan mencangkok adalah agar diperoleh tumbuhan baru yang cepat berbuah dan sifatnya sama dengan induknya. |
![]() |
b. Menempel
(okulasi) Menempel adalah menggabungkan bagian tubuh dua tanaman yang berbeda. Umumnya dua jenis tanaman yang digabungkan tersebut masing-masing mempunyai kelebihan. Misalnya tumbuhan mangga berakar kuat, buahnya sedikit, dengan tumbuhan mangga yang berakar lemah, buahnya banyak. Maka cara menempelnya, pada batang tumbuhan yang berakar kuat, ditempelkan kulit yang mempunyai calon tunas dari batang tumbuhan mangga yang berbuah banyak tetapi berakar lemah tadi. |
![]() |
c. Merunduk Cara ini dilakukan dengan merundukkan dan kemudian membelokkan ke bawah batang atau cabang tanaman. Pada bagian cabang yang tertimbun tanah kemudian akan tumbuh akar-akar. Setelah akar-akarnya kuat cabang yang berhubungan dengan batang induk dipotong. Tanaman yang biasa dikembangkan dengan merunduk adalah apel, anyelir, alamanda, selada air, anggur, dan lain sebagainya. |
| d. Mengenten
(menyambung/kopulasi) Pada dasarnya menyambung sama dengan menempel. Cara ini banyak dilakukan pada singkong dan buah-buahan. Mula-mula biji disemaikan. Setelah tumbuh lalu disambung dengan ranting/cabang dari pohon sejenis yang buahnya baik. Kemiringan potongan ± 45°. Diameter batang atas harus sesuai dengan diameter batang bawah. Kedua sambungan itu diikat dengan kuat. Diusahakan agar tidak terjadi infeksi. Buah yang dihasilkannya akan sama dengan buah yang dihasilkan pohon asalnya. |
|
![]() |
e. Stek Stek adalah memperbanyak dengan potongan-potongan batang, yang ditanam, lalu tumbuh menjadi tanaman baru. Potongan-potongan tersebut harus punya buku-buku. Banyak dilakukan terhadap ubi kayu, tebu, tanaman pagar, dan lain-lain. |
Banyak petani yang mengembangkan cara reproduksi pada tanaman buah-buah, tanaman liar, dan lain-lain dengan cara mencangkok, stek, merunduk, okulasi, mengenten dan lain-lain. Cara ini memberikan beberapa keuntungan antara lain:
- Sifat tanaman baru akan sama persis dengan sifat tanaman induk.
- Cepat menghasilkan buah.
- Tanaman yang berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem perakaran yang kurang kuat.
- Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.
- Bila tanaman hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat menyebabkan menurun pertumbuhannya.
6. PROSES SPERMATOGENESIS.
Tubulus seminiferus dengan sperma yang matang.
Spermatogenesis adalah
proses di mana sel-sel germinal primordial pria yang disebut spermatogonium
menjalani meiosis, dan
menghasilkan sejumlah sel yang disebut spermatozoa. Salah
satu sel awal dalam jalur ini disebut spermatosit primer. Setiap
spermatosit primer membelah menjadi dua spermatosit sekunder, dan masing-masing
spermatosit sekunder menjadi dua spermatid atau spermatozoa muda.
Sel ini berkembang menjadi spermatozoa matang, yang disebut sel sperma. Dengan
demikian, spermatosit primer menghasilkan dua sel, spermatosit sekunder, dengan
subdivisi yang menghasilkan empat spermatozoa. [1]
Proses
Tempat pembentukan sperma berada
pada Tubulus Seminiferus di dalam testis. Proses pembentukan sperma ini
dinamakan Spermatogenesis. Pada Tubulus Seminiferus terdapat dinding yang
terlapisi oleh sel Germinal Primitif yang mengalami kekhususan. Sel germinal ini
disebut Spermatogonium. Setelah mengalami pematangan, spermatogonium
memperbanyak diri sehingga membelah secara terus-menerus (Mitosis). Dalam
proses pembentukan sperma (Spermatogenesis) dipengaruhi oleh beberapa hormon,
yaitu :
1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung serta merangsang sel sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) untuk memacu spermatogonium dalam melakukan spermatogenesis.
2. Hormon LH yang berfungsi merangsang Sel Leydig untuk memperoleh sekresi Testosterone (Suatu hormon seks yang penting untuk perkembangan sperma).
Dalam Proses Pembentukan Sperma
(Spermatogenesis) secara singkat sebagai berikut : Spermatogonium
mempunyai jumlah kromosom diploid (2n). Spermatogoium ini menempati membran
basah atau bagian terluar dari Tubulus Seminiferus yang akan mendapatkan
nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi Spermatosit Primer.
Spermatosit Primer mengandung kromosom diploid (2n) pada intinya dan mengalami
meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua anak, yaitu Spermatosit
Sekunder. Proses pembentukan Spermatosit Sekunder, dimulai saat Spermatosit
Primer menjauhi dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak, dan terjadilah
meiosis pertama yang membentuk dua spermatosit sekunder yang masing-masing
memiliki kromosom haploid (1n). Proses meiosis pertama ini langsung diikuti
dengan pembelahan meiosis kedua yang membentuk empat spermatid, masing-masing
dengan kromosom haploid. Akhirnya spermatid akan bertranformasi membentuk spermatozoa.
Proses spermatogenesis ini terjadi pada suhu normal tetapi lebih rendah dari
pada suhu tubuh, dan proses ini juga dipengaruhi oleh sel sertoli.
Dalam Proses Pembentukan Sperma (Spermatogenesis)
secara rinci sebagai berikut :
Pada fase awal spermatogenesis,
spermatogonium bersifat diploid (2n). Secara mitosis, spermatogonium akan
berubah menjadi spermatosit primer (2n). Berikutnya, spermatosit primer
membelah menjadi spermatosid sekunder secara meiosis (Meiosis I). Jumlah
spermatosit sekunder ada dua, sama besar dan bersifat haploid (n). Melalui fase
Meiosis II, spermatosit sekunder membelah menjadi empat spermatid yang sama
bentuk dan ukurannya. Selanjutnya, spermatid berkembang menjadi sperma matang
yang bersifat haploid (n).
Jika dilihat dari tahapannya, proses spermatogenesis dibagi menjadi tiga tahapan :
1. Tahapan SpermatocytogenesisYaitu tahapan spermatogonium yang bermiosis menjadi spermatid primer, proses ini dipengaruhi oleh sel sertoli, dengan sel sertoli yang memberi nutrisi-nutrisi kepada spermatogonium, sehingga dapat berkembang menjadi spermatotid.2. Tahapan Meiosis
Merupakan tahapan spermatosit primer bermitosis I membentuk spermatosit sekunder dan langsung terjadi meiosis II yaitu pembentukan spermatid, dari spermatosit sekunder.
3. Tahapan SpermiogenesisMerupakan tahapan terakhir pembentukan spermatozoa, dimana terjadi transformasi dari spermatid menjadi spermatozoa.
Setelah terbentuk spermatozoa, Sperma ini terdiri dari tiga bagian yaitu kepala sperma, leher sperma dan ekor sperma. Berikut penjelasannya :
A. Kepala Sperma,
pada kepala sperma terdapat akrosom yang berfungsi untuk melindungi kepala
sperma. B. Leher Sperma, pada bagian ini banyak mengandung mitokondria,
sehingga tempat ini merupakan tempat oksidasi sel untuk membentuk energi,
sehingga sperma dapat bergerak aktif C. Ekor Sperma, bagian ini merupakan alat
gerak sperma menuju ovum.
7.
PROSES
OOGENESIS.
Oogenesis
merupakan proses pembentukann ovum di dalam ovarium. Tidak seperti spermatogenesis
yang dapat menghasilkan jutaan sperma dalam waktu yang bersamaan, oogenesis
hanya mampu menghasilkan satu ovum matang sekali waktu. Proses oogenensis
dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu:
a. Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel
b. Hormon LH (Luteinizing Hormone)
Berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu
proses pengeluaran sel ovum)
c. Hormon estrogen
Estrogen berfungsi menimbulkan
sifat kelamin sekunder
d. Hormon progesteron
Hormon progesteron berfungsi juga untuk menebalkan
dinding endometrium.
Oogenesis
secara sederhana prosesnya dapat dijelaskan tahapannya sebagai berikut
1. Oogonium adalah merupakan sel induk dari ovum yang terdapat dalam
sel folikel yang berada di dalam ovarium
2. Oogonium mengalami pembelahan mitosis berubah menjadi oosit
primer, yang memiliki 46 kromosom. Oosit primer melakukan meiosis (tahap I),
yang menghasilkan dua sel anak yang ukurannya tidak sama
3. Sel
anak yang lebih besar adalah oosit sekunder yang bersifat haploid (n).
Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari yang lain karena berisi
lebih banyak sitoplasma dari oosit primer yang lain
4. Sel
anak yang lebih kecil disebut badan polar pertama yang kemudian membelah lagi
5. Oosit
sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba Fallopi. Apabila oosit
sekunder di dibuahi oleh sel sperma (fertilisasi), maka akan mengalami
pembelahan meiosis yang kedua. begitu pula dengan badan polar pertama membelah
menjadi dua badan polar kedua yang akhirnya mengalami degenerasi. Namun
apabila tidak terjadi fertilisasi, menstruasi dengan cepat akan terjadi
dan siklus oogenesis diulang kembali
6. Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder
menjadi bersifat haploid (n) dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut dengan ootid.
Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu, saat itu juga ootid
kemudian mencapai perkembangan akhir atau finalnya menjadi ovum yang matang.
Peristiwa pengeluaran sel telur dikenal dengan istilah ovulasi. Pada
setiap ovulasi hanya satu telur yang matang dan dapat hidup 24 jam. Jika
ovum yang matang tersebut tidak dibuahi,
maka sel telur tersebut akan mati dan luruh bersama dengan dinding rahim pada
awal siklus menstruasi .
Uraian diatas dapat digambarkan dalam gambar di bawah
ini!
Gambar 5. Proses Oogenesis
(elibrary42.multiply.com)
Ovum memiliki beberapa lapisan pelindung, antara lain :
1) Membrane vitellin
yaitu lapisan transparan dibagian dalam ovum.
2) Zona
pellusida, yaitu lapisan
pelindung ovum yang tebal dan terletak dibagian tengah. Terdiri
dari protein dan mengandung rangsang (reseptor) untuk spermatozoa.
3) Corona radiata, yaitu merupakan sel-sel granulose
yang melekat disisi luar dan merupakan mantel terluar ovum yang paling tebal.
perhatikan gambar di bawah ini!
Gambar
6 . stuktur ovum











Tidak ada komentar:
Posting Komentar